Alif News


Salut!. Jausan Memang Jausyan
7 Oktober 2008, 4:15 am
Filed under: Taklif | Tag:

Enam Desa Krisis Air Bersih

Enam Desa di Lumajang Krisis Air Bersih

Kita adalalah orang-orang yang terancam lupa pada soal yang begitu pentingnya justru karena ia terletak begitu dekatnya. Padahal semakin penting segala sesuatu, semakin dekat kita kepadanya. Padahal semakin dekat kita kepadanya, semakin mudah kita melupakannya. Inilah kenapa (seperti sajak Darmanto Jatman) lidah, meskipun di dalam mulut, ia tak terasa..[Prie GS]

Saat Tiada Baru Terasa Berharga

Saat Tiada Baru Terasa Berharga

Puluhan jerigen aneka warna dengan kapasitas 20-30 liter ditata berjajar di bawah mulut kran semi permanen, tepat di bawah pohon jambu air, di depan rumah salah satu warga yang terletak 20 meter sebelah Timur Pasar Gunungtengu-Lumajang. Sementara di depan masing-masing wadah air tersebut berjejer antri para pria yang dengan sabar menunggu jerigen mereka penuh air untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Dengan pompa air listrik, air dalam tandon berkapasitas 10 ribu liter tersebut di alirkan melalui instalasi pipa paralon sederhana yang konstruksinya menyerupai kran-kran tempat wudhu di masjid-masjid.

Dalam waktu kurang dari 3 jam, dapat dipastikan persediaan air dalam tandon tersebut akan segera tandas tanpa sisa. Padahal untuk membuatnya penuh kembali, dibutuhkan 5 kali angkut tandon-tandon kecil berkapasitas 2 ribu liter yang pengisiannya dilakukan di sebuah sumber mata air yang letaknya lumayan jauh, butuh waktu kurang lebih 2 jam, dengan tenaga 3-4 orang sukarelawan.

Demikianlah, sudah hampir tiga bulan lamanya masyarakat di enam desa di wilayah sekitar Gunungtengu-Lumajang dilanda krisis air bersih. Hal ini bukan semata disebabkan oleh panjangnya musim kemarau tahun ini. Yang seperti di daerah-daerah lain, biasanya sumur-sumur mengalami kekeringan. Tapi karena memang di wilayah sekitar desa krisis air tersebut, hampir tak satupun warga yang mampu membuat sumur karena ternyata setelah beberapa kali dicoba, kerasnya tanah berbatu di desa mereka membuat mesin bor pembuat pompa tak mampu menembusnya. Atau bila memang pernah ada yang mampu membuat galian semacam itu, akan dihadapkan pada permasalahan betapa dalamnya letak sumber mata air di bawah tanah keras itu [ditaksir berada di kedalaman kurang lebih 150 meter].

Sebab lain terjadinya krisis air tersebut, dalam pantauan Alif News, dari hasil wawancara dengan beberapa orang warga, ditengarai bermula dari terhentinya pasokan air melalui saluran pipa PDAM, yang rata-rata tiap rumah di wilayah tersebut sudah memilikinya. Namun hingga kini, masyarakat tak habis pikir, dengan alasan apa PDAM melakukan penyetopan pasokan sepihak semacam itu.

Ketika beberapa perwakilan warga, secara bergantian mendatangi kantor PDAM setempat, didapat jawaban bahwa penghentian pasokan tersebut disebabkan oleh ulah beberapa oknum warga sendiri yang melakukan perusakan terhadap fasilitas pipa milik PDAM di beberapa titik dalam wilayah enam desa tersebut. Padahal sebaliknya menurut warga, tindakan tersebut diambil, justru sebagai reaksi atas tindakan PDAM yang dianggap sewenang-wenang dan merugikan warga, karena pasokan air yang dialirkan tak pernah mencukupi kebutuhan karena debitnya yang kian menurun dan bertambah kecil dari waktu ke waktu.

Entah pihak manakah yang berada dalam posisi benar terkait polemik saling klaim ini. Namun yang jelas, pada titik akhirnya, tetap warga jualah yang dalam hal ini sangat terasa dirugikan. Bagaimana tidak, kita semua tahu, bahwa air merupakan kebutuhan pokok yang ketersediaannya memang mutlak diperlukan sepanjang waktu.

Namun kadang memang begitulah tabiat kita, selama apa yang kita butuhkan tersedia secara berkelimpahan, kita jadi lupa betapa berharganya karunia itu. Hanya apabila segala sesuatu yang biasanya kita miliki itu menjadi hilang dari hadapan, mulailah kita tersadar kembali, betapa selama ini Tuhan telah memberikan anugerah besar dan Kasih sayang-Nya yang tak terhingga bahkan secara cuma-cuma.

Sungguh demikian banyak hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa ini, asal saja kita mau meluangkan waktu sejenak untuk bertafakkur dengan pikiran dan hati jernih. Satu hal yang pasti, dan ini harus senantiasa menjadi pedoman kita: apapun yang Tuhan berikan pastilah itu semua merupakan hal yang terbaik untuk kita.

Benar adanya apa yang seringkali kita dengar, bahwa dalam setiap kesulitan, teriring pula bersamanya kemudahan. Hal ini pun terbukti, bahwa di tengah keluh kesah masyarakat yang ‘menderita’ karena krisis air tersebut, ternyata masih ada sekelompok kaum muda yang tak hanya peduli dan berempati dengan kata-kata, namun lebih dari itu langsung ‘take-action’, mengambil langkah dan tindakan yang memang diperlukan.

Jausyan Itu Ternyata Jausan

Jausyan Itu Ternyata Jausan

Semula tak seorangpun tahu, siapakah para penyelamat keadaan, yang tanpa kenal lelah menjamin ketersediaan suplai air dalam tandon berkapasitas 10 ribu liter tersebut. Yakni sebuah fasilitas yang dalam beberapa minggu terakhir telah dimanfaatkan oleh banyak warga secara cuma-cuma.

Namun hal ini, ternyata tak sedikitpun menyurutkan semangat sekelompok anak muda yang telah mengabdikan pikiran, waktu, tenaga, dan biaya, hanya demi kemaslahatan dan satu tujuan: meringankan beban-derita masyarakat itu. Karena itulah, sungguh pantas kita sematkan predikat JAUSYAN [pelindung] bagi mereka. Apalagi bila kita tahu, mereka tak lain adalah anak-anak muda yang memang tergabung dalam sebuah komunitas bernama JAUSAN [Jaringan Antar Umat untuk Solidaritas Kemanusiaan], yang sejak pembentukannya telah berulangkali hadir di tengah mereka yang tengah mengalami keprihatinan, untuk mengurangi beban penderitaan akibat bencana alam dari mulai  tsunami Aceh hingga banjir dan badai topan yang mendera berbagai kawasan negeri kita sejak beberapa tahun silam.

Semoga Allah SWT, Rasul saaw, para Imam as dan kaum mukmin, menjadi saksi atas perbuatan mulia mereka.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: