Alif News


Siapa Yang Akan Menang: Khofifah atau Obama?
4 November 2008, 1:12 am
Filed under: Politik | Tag:

Siapa pernah menyangka bahwasanya Empat Nopember 2008 (41108) akan tercatat sebagai angka istimewa bagi masyarakat Jawa Timur dan Amerika. Karena pada saat yang sama, meski dipisah tempat dan jarak berbeda, telah dijadwalkan ajang pemilihan pemimpin ‘wilayah’ masing-masing. Dengan kata lain: Waktu Pilgub di Jatim = Waktu Pilpres di AS.

Apakah kebetulan ini mengandung makna?. Boleh jadi, ya. Bisa saja, tidak. Tapi tak ada salahnya bila kita tilik lebih jauh, untuk menemukan bahwa ternyata banyak hal yang serupa dalam dua peristiwa itu. Yakni antara Khofifah di satu sisi dan Obama di sisi lain. Keduanya sama dipandang punya sisi minus dari kacamata pandang para calon pemilih. Khofifah sering dipersoalkan karena ke-perempuan-nya sedang Obama dari sisi hitam warna kulitnya.

Obama-Khofifah(OK) atau Khofifah-Obama(KO)?

Obama-Khofifah(OK) atau Khofifah-Obama(KO)?

Meski juga tak dapat dipungkiri, keduanya memiliki daya tarik yang sama kuatnya, terutama dalam hal kans mereka untuk membawa angin segar perubahan. Tampak kepada kita, seakan pertarungan politik tersebut berlangsung antara figur gaya lama melawan figur gaya baru. Apalagi belakangan kita tahu bahwa kesadaran akan terjadinya perubahan itu kian menggaung di setiap belahan dunia.

Nampaknya, perubahan itu memang perlu, agar kita berada dalam kondisi lebih maju. Meski belum ada yang tahu pasti, siapakah yang akan berhasil meraih impiannya, siapakah diantara mereka yang akan menang atau kalah dalam ajang pemilihan kali ini, setidaknya kita tahu bahwa dunia kita selalu berubah cepat dari waktu ke waktu. Dan di tengah perubahan itu, kita pun mesti siap-siaga selalu.

Dalam banyak hal, calon Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa memiliki kesamaan dengan Barack Obama, kandidat Presiden AS. Mereka adalah pribadi yang menjanjikan perubahan. Keduanya punya peluang.

Di lapangan yang berbeda, Obama dan Khofifah adalah idola. Mereka bukan lagi sekadar figur yang dicirikan sebagai from zero to hero. Obama-Khofifah (banyak yang menyebut mereka dengan singkatan OK) adalah pribadi form hero to greater hero.

Obama dan Khofifah adalah sosok-sosok pemimpin yang sudah membuktikan kerja kerasnya. Memiliki kesanggupan untuk berbuat lebih; membuat dampak lebih besar. Mereka melakukan perubahan konstruktif. Mereka memberi harapan yang lebih baik untuk semua kalangan.

Singkat kata, Obama-Khofifah bisa diidiomkan dengan CHI (Change-Hope-Impact). Dalam bahasa China, Chi adalah energi murni alam semesta. Yang menjaga keseimbangan metabolisme tubuh dan memberikan vitalitas. Chi seringkali disejajarkan dengan konsep harmoni dan dibutuhkan untuk merestorasi ketidakseimbangan.

Sebagai bagian dari abjad Yunani, Chi (baca: Kai) dikaitkan dengan konsep kesucian dan sifat pengorbanan. Artinya, Khofifah, sebagaimana juga Obama, memberi harapan atas semua itu.

Rekam jejak Obama-Khofifah membuktikan hal itu. Kontribusi nyata, komitmen, kepemimpinan mereka dalam berbagai tingkatan, wilayah, dan berbagai bidang pengabdian, membuktikan mereka mampu mengurusi hal detil. Semua dilakukan tanpa kehilangan konteks makro dan isu multidimensi.

Keduanya mampu menjawab persoalan keseharian masyarakat, sampai bergelut dengan isu-sisu strategis. Obama dan Khofifah mampu memobilisasi sumber daya lokal yang ada di masyarakat, tanpa harus tergantung dengan dana-dana negara. Tanpa bicara APBD atau APBN.

Keterbatasan anggaran bukanlah kendala bagi Obama-Khofifah. Dalam situasi terbatas pun, mereka mampu mengatasi persoalan-persoalan sosial kemasyarakatan.

Obama memulai kiprah pengabdiannya dari seorang street organizer di Chicago. Dia melakukan aktivitas pelayanan bagi mereka yang tersingkir dari modernitas ekonomi dan terpaksa bertahan hidup dan membangun kehidupan di jalanan.

Chicago adalah kota multi-etnik di Amerika yang identik dengan keragaman, kompleksitas persoalan sosial-ekonomi (pendidikan, pengangguran, perumahan publik, transportasi, sampai kriminalitas). Dualisme struktur ekonomi (sektor pertanian sampai dengan sektor modern manufaktur dan jasa), dan posisi strategis sebagai kota global.

Khofifah juga memulai kiprah pengabdiannya dari seorang aktivis mahasiswa, dan kemudian aktivis sosial kemasyarakatan di Jatim, sampai nasional. Sebagai pelayan masyarakat, Khofifah terbiasa bekerja optimal dalam situasi keterbatasan fasilitas dan anggaran.

Dia sudah amat terlatih menjadi seorang fasilitator penyelesaian konflik. Khofifah sudah amat terampil sebagai pembangun konsensus.

Seperti halnya Chicago bagi Obama, Jawa Timur bagi Khofifah juga berfungsi sebagai kawah candradimuka dan kampus kehidupan. Jawa Timur mengajarkan begitu banyak praktik kepemimpinan nyata. Bukan sekedar jabatan birokrasi yang seringkali justru mandul ketika dihadapkan pada kompleksitas masalah kemasyarakatan.[berbagai sumber]


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: