Alif News


Rahm Israel Emanuel – Rambo Baru Amerika
11 November 2008, 7:48 am
Filed under: Amerika Sekarat, Amit-Amit, Eksternal | Tag:

Duh! Om Rahmbo, Pakai Kacak Pinggang Segala!

Duh! Amit-amit Lirik Maut & Kacak Pinggangnya..

Rahm “Rahmbo” Emanuel, Kepala Staf Gedung Putih yang Berperangai Sangar, Gemar Memaki, Pernah Menghardik Perdana Menteri Inggris. Perangai bak preman justru melejitkan karir politik Rahm Israel Emanuel. Dia jago melobi dan piawai mencari dana. Mungkin inilah salah satu alasan Obama memilih anak mantan tokoh garis keras Irgun – Israel [Sebuah kelompok yang sangat gemar membantai muslim Palestina] ini menjadi salah seorang pembantu di ‘lingkaran’ terdekatnya.

GEDUNG PUTIH 1998, Perdana Menteri Inggris Tony Blair tengah mempersiapkan diri untuk tampil dalam jumpa pers bareng Presiden Amerika Serikat Bill Clinton. Ketika itu skandal perselingkuhan Clinton dengan Monica Lewinsky tengah panas-panasnya. Karena itu, segala pernyataan dari siapa pun di Gedung Putih harus dikontrol betul. Selip kata sedikit saja bisa berdampak besar terhadap sang presiden.

Blair sudah pasti sadar akan hal tersebut. Apalagi, jumpa pers bareng Clinton itu memang dimaksudkan untuk meredam sorotan terhadap skandal memalukan tersebut. Tapi, penasihat senior Clinton, Rahm Israel Emanuel, tak mau mengambil risiko. Sesaat sebelum melangkah ke ruang jumpa pers, politikus Partai Buruh itu didekati Rahm.

Setengah mengingatkan dan menghardik, dia berkata, “This is important. Don’t f— it up! (Ini masalah penting. Jangan mengacaukannya, Red).”

Itulah Rahm yang pekan lalu ditunjuk presiden terpilih AS, Barack Obama, sebagai kepala staf Gedung Putih. Tak peduli kepala negara atau pemerintahan, dia tak akan segan menggertak, memarahi, atau melontarkan sumpah serapah terhadap orang yang dinilai menghalanginya menyelesaikan pekerjaan.

“Kalau tiap kali Rahm memaki bisa dinilai dengan uang, mungkin jumlahnya cukup untuk membayar dana talangan federal,” tutur Nancy Pelosi, ketua DPR AS.

Beberapa kolega Rahm di Gedung Putih bercerita, setelah berhasil mengantarkan Clinton menjadi presiden dalam kapasitas sebagai pengumpul dana, Rahm diminta untuk menyusun daftar tamu yang akan diundang dalam makan malam demi merayakan kesuksesan suami Hillary Clinton tersebut. Sembari berdiri memegang pisau dekat meja makan di kediaman Clinton, dia mencoret nama-nama yang dianggapnya sebagai “pengkhianat” selama kampanye. Tiap kali menyebut nama-nama para pengkhianat, dia menancapkan pisau ke meja sambil berteriak, “Mati, mati, mati.”

Tak heran jika julukan “Rahmbo” melekat pada pria yang memulai aktivitas politik sejak masih menjadi mahasiswa jurusan seni liberal di Sarah Lawrence Collega itu. Prinsip kerja anggota House of Representatives (DPR) AS yang berusia 48 tahun tersebut sederhana saja: get it done or get out of my way (kerjakan atau enyah dari hadapan saya). Sebuah prinsip kerja yang sepertinya tidak cocok untuk tugas dia sebagai kepala staf Gedung Putih yang otomatis berkaitan erat dengan diplomasi. Semua tahu, diplomasi adalah lobi. Dalam banyak hal, diplomasi adalah mengumbar basa-basi.

Tapi, anehnya, justru karakter ala “preman” itulah yang melejitkan karir politik politikus Partai Demokrat kelahiran Chicago pada 29 November 1959 tersebut. Clinton memuji dia sebagai pengumpul dana yang piawai. Begitu selesai mendampingi Clinton, ayah tiga anak itu terjun ke dunia investasi, tapi hanya sebentar. Pada 2002 dia sukses merebut kursi DPR. Di Capitol Hill, tempat anggota DPR AS berkantor, sikap lantang tersebut menjadikan Rahm kandidat serius pengganti Nancy Pelosi sebagai ketua DPR.

“Dia (Rahm, Red) bisa disebut anak emas Demokrat sekarang. Dialah yang merekrut kandidat, mencarikan mereka dana dan topik untuk diangkat dalam kampanye. Tak ada yang bisa melakukan apa yang dia kerjakan,” puji Ray LaHood, kolega Rahm di DPR dari Partai Republik.

Chicago Tribune menulis, kalau perlu, Rahm akan menjungkirbalikkan bumi asalkan tugasnya bisa selesai. Itu pula alasan Obama memilih dia. Sebuah pilihan yang dipuji banyak pihak.

“Pekerjaan kepala staf Gedung Putih adalah meraih, melobi, mempromosikan, dan mengegolkan agenda politik presiden supaya direstui kongres. Rahm paling cocok melaksanakan semua itu,” tulis majalah Time.

Tentu Obama harus siap dengan segala risiko: komplain dari tamu-tamunya di Gedung Putih yang dihardik atau dimaki Rahm. Meski, Rahm mengaku sering menyesal memiliki tabiat yang demikian sangar.

“Sering saya bangun pagi dengan perasaan sangat membenci diri sendiri,” ucapnya. [jawapos]


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: