Alif News


Belajar Memaknai Hidup
26 November 2008, 8:33 pm
Filed under: Cermin, Hikmah | Tag:

Tak seorangpun yang tahu pasti apa sesungguhnya arti dari setiap kejadian dan segala rencana Tuhan. Begitupun denganku, dan pastinya Andapun demikian juga.

Hidup Warna-Warni Terasa Lebih Berarti

Hidup Warna-Warni Terasa Lebih Berarti

Dari perjalanan kehidupan selama ini, kita telah belajar banyak hal, menyangkut terjadinya beragam peristiwa, tentang gagalnya kebanyakan rencana kita dan terlaksananya rencana Tuhan di dalamnya. Meskipun yang kita bisa tahu, hanyalah berupa dampak yang tampak di mata lahir saja. Yang dapat kita rasa dengan perasaan dan hati, tak bisa lebih jauh dari itu: terhadap kejadian menyedihkan, kita pun terbawa sedih. Dihadapkan pada peristiwa menyenangkan, kita pun serta-merta terbuai sukacita.

Tak ayal kita jarang berpikir dan bertanya lebih jauh, macam apakah ukuran sedih dan senang itu dalam kehidupan? Dan apakah sebenarnya kemauan Tuhan atas setiap kejadian yang menimpa kita? Mengutip perkataan orang bijak: apakah sebenarnya hikmah di balik setiap peristiwa?

Padahal jika kita salah dalam menjawab pertanyaan ini, sangat mungkin kita tergelincir pada pemahaman yang kelliru atas makna keadilan dan kasih sayang Tuhan dalam kehidupan. Tapi terkadang, memang jarang dari kita yang peduli atasnya.

Dan sebagai akibat paling nyata, seringkali kita saksikan banyaknya tangis sedih dan tawa ceria di dunia kita, terkadang kemudian memang tidak lagi pada tempatnya.

Begitupun keputusasaan dan hilangnya semangat hidup, seringkali juga dipicu oleh salah paham terhadap makna hakiki kasih sayang dan keadilan Tuhan itu.

Seberapa adilkah Tuhan kepada kita? Seberapa besarkah pula kasih sayang-Nya?

Dan sayangnya, kita tak akan mungkin memahami dan menemukan dengan mudah jawaban atas dua pertanyaan ini, bila kita belum melacak pengertian yang benar tentang apakah sesungguhnya makna keadilan dan kasih sayang Tuhan itu.

Itulah pula mengapa seringkali dalam kehidupan kita, dengan mudahnya kita berkata bahwa Tuhan telah berlaku tidak adil ke atas kita, bahwa Tuhan telah menjauhkan kita dari sentuhan kasih sayang-Nya.

Tuduhan macam ini biasanya selalu menjadi serapah rutin tatkala kita merasa ditimpa kejadian yang tak mengenakkan secara lahir maupun batin.

Ini semua terjadi karena kita meletakkan tolok ukur dan cara pandang yang keliru terhadap Tuhan. Tanpa sadar, hal yang kita lakukan ini sesungguhnya sama halnya dengan merendahkan Tuhan. Kita anggap Tuhan salah dalam mengambil keputusan. Tuhan salah dalam mendesain rencana dan kejadian yang selayaknya kita terima, dan harus kita alami.

Kita jarang bersabar dan mengambil sikap hati-hati dalam menilai Tuhan, pada saat kita tidak suka terhadap sebuah peristiwa, dan lebih senang jika seandainya peristiwa lain yang terjadi, persis sesuai kemauan kita sendiri. Kekecewaan dan amarah, yang lahir dari pandangan keliru ini, pada akhirnya menuntun kita ke arah yang salah: kalau tidak menghujat Tuhan, sudah pasti sebaliknya, kita memilih meratapi diri. Yang kita mau dalam kehidupan ini, seakan hanya yang manis saja. Kita benar-benar telah menjadi alergi terhadap aneka macam kepahitan hidup. Apakah ini sebuah sikap yang benar, dan secara logis dapat dipertanggungjawabkan?

Sayapun tak tahu pasti jawab atas tanya itu. Namun ada yang saya tahu. Dua hal sederhana yang dapat kita renungkan, dihadapkan pada sikap keliru dalam memandang pahit-manis kehidupan semacam itu adalah sebuah kenyataan: bahwa apa yang manis terkadang tidak selamanya baik buat kita, dan pada saat yang sama seringkali pahitlah yang kita perlukan. Terkadang manis menimbulkan penyakit, pada saat yang pahit justeru dapat menyembuhkan.

Bila memang demikian halnya hukum yang berlaku, masihkan tersisa tanya terhadap keadilan dan kasih sayang Tuhan terhadap kita? Apalagi bila Tuhan sendiripun telah menegaskan: boleh jadi hal-hal yang menyenangkan kita tidaklah selamanya baik buat kita, tapi sebaliknya, apa-apa yang tidak kita sukai, sangat mungkin itulah sebenarnya yang akan mendatangkan banyak maslahat dalam kehidupan kita. Tuhan yang tahu pasti, pada saat kita tak habis mengerti.

Mengapa demikian?. Jelas, karena harus kita akui bahwa pengetahuan kita atas makna setiap realitas memang sangat terbatas. Sedang Tuhan, memang hanya Dia-lah yang Maha Tahu awal dan akhir setiap urusan. Hanya rencana-Nya lah yang terbaik. Maka karena itu pula hanya kehendak-Nya pulalah yang sudah pasti akan terjadi dan berlaku. Tidakkah ini hal yang memang selayaknya? Seberapa ukuran dan kadar keimanan kita terhadap-Nya lah yang akan mampu menjawabnya.[renungan pribadi]


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: