Alif News


Jangan Jadikan ‘Ghadir’ Pemicu Perselisihan Umat
18 Desember 2008, 11:13 pm
Filed under: Rahbari | Tag:
Dengan Ghadir Islam Bersatu Bukan Berpecah

Dengan Ghadir Islam Bersatu Bukan Berpecah

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan ribuan orang dari berbagai kalangan Rabu (17/12), menyatakan bahwa signifikansi masalah kekuasaan dalam Islam dan model ideal pemerintahan Islam adalah pelajaran besar yang dibawa oleh peristiwa Ghadir. Beliau mengatakan, “Dengan tetap berpegang teguh pada keyakinannya yang benar dan argumentatif menyangkut peristiwa Ghadir, kaum Syiah tak akan membiarkan masalah keyakinan ini menjadi isu pemecah belah di tengah Dunia Islam.”

Seraya menyampaikan ucapan selamat kepada bangsa Iran yang mukmin dan kepada seluruh kaum muslimin atas peringatan hari raya Ghadir, beliau mengimbau semua pihak untuk memahami dengan benar pesan yang dibawa oleh peristiwa ini, dan menandaskan, “Penobatan Amirul Mukminin as sebagai penerus Nabi SAW yang dilakukan sendiri oleh Rasulullah SAW adalah masalah yang sangat penting, apalagi hal itu terjadi di akhir-akhir masa hidup beliau SAW. Hal ini menandakan bahwa masalah kepemimpinan, persatuan agama dan politik dalam Islam adalah masalah yang penting. Umat Islam dewasa ini memerlukan pelajaran yang sangat besar tersebut.

Rahbar menambahkan, pelajaran lain yang didapat dari peristiwa Ghadir adalah model ideal pemerintahan Islam. Beliau mengatakan, “Menunjuk figur seperti Imam Ali bin Abi Thalib as sebagai penerus kepemimpinan Nabi SAW menunjukkan bahwa Ghadir bukan hanya sebuah kenangan dalam sejarah umat Islam semata, tetapi menjelaskan model tertentu dalam memerintah sebuah masyarakat Muslim bahkan seluruh masyarakat insani.”

Pemimpin Besar Revolusi Islam menambahkan, “Kepasrahan mutlak kepada keridhaan Allah swt, jihad di jalan Allah dengan segala kesulitannya dan tanpa henti, pengorbanan di jalan kebenaran dan hakikat, keteguhan yang bagai baja dalam menghadapi musuh Allah, berpaling dari gemerlap duniawi, serta rendah hati di hadapan orang-orang lemah dan tertindas, adalah sebagian dari karakteristik yang dimiliki oleh Imam Amirul Mukminin Ali as.”

Peristiwa Ghadir, menurut pandangan beliau, adalah peristiwa yang memberikan pelajaran kepada umat Islam bahwa kekuasaan atas masyarakat Muslim harus diserahkan kepada orang-orang yang menjunjung tinggi sifat-sifat agung yang ada pada diri Amirul Mukminin as, serta berusaha keras untuk mendekatkan diri kepada sifat-sifat yang sangat mulia itu. Masalah ini, tambah beliau lagi, adalah pesan-pesan penting yang dibawa oleh Islam dan diperjuangkan oleh Republik Islam Iran saat ini.

Beliau menyebut Ali bin Abi Thalib as sebagai murid Rasulullah SAW yang paling menonjol dalam kesabaran, jihad dan berbagai masalah lainnya. “Krisis besar yang dirasakan umat manusia dewasa ini adalah kevakuman dari para politikus yang model paling sempurnanya telah dikenalkan oleh Islam kepada sejarah dalam peristiwa Ghadir Khum,” jelas beliau.

Ayatullah Al-Udzma Khamenei di bagian lain pidatonya menerangkan perbedaan persepsi antara Syiah dan Sunni dalam memandang peristiwa Ghadir Khum. Beliau mengatakan, “Meski ada perbedaan persepsi, namun Syiah dan Sunni sama-sama meyakini terjadinya peristiwa Ghadir. Syiah dan Sunni juga meyakini kebesaran figur Imam Ali as. Seluruh umat Islam memandang Imam Ali bin Abi Thalib as sebagai puncak kemuliaan tertinggi yang tak mungkin bisa disamai dalam ilmu, taqwa dan keberanian.”

Seraya menyeru semua pihak, Syiah dan Sunni, untuk bersikap bijak dan tanggap dalam menghadapi makar dan tipu daya musuh yang berusaha menebar perpecahan di tengah umat Islam, Rahbar menegaskan, “Keyakinan yang mendalam terkait soal imamah dan kepemimpinan Amirul Mukminin Ali as setelah Nabi SAW adalah pokok utama keyakinan Syiah, dan kaum Syiah terus mempertahankan dan memegang teguh keyakinan ini bersama keyakinan yang lain dan khazanah keilmuannya meski menghadapi berbagai tekanan dan penindasan. Namun Syiah tidak akan mengizinkan keyakinan ini menjadi faktor pemicu perselisihan dan permusuhan di tengah dunia Islam.”

Pemimpin Besar Revolusi Islam menjelaskan jerih payah yang dilakukan Imam Khomeini (ra) dan Republik Islam Iran yang selalu dan terus menerus berusaha mencegah terjadinya fitnah perpecahan di tengah umat Islam. Beliau mengatakan, “Kaum arogansi dunia terpukul dengan adanya persatuan pandangan dan ikatan hati antara umat Islam, Syiah dan Sunni, yang tercipta berkat kemenangan revolusi Islam. Karena itulah sentimen madzhab yang mereka pandang sebagai cara terbaik dimanfaatkan untuk menebar pertikaian di tengah umat Islam dan menjauhkan kaum muslimin dari Republik Islam Iran. Karena itu dalam menghadapi tipu daya berbahaya ini diperlukan kecerdasan dan kewaspadaan.”

Rahbar menjelaskan dana besar yang telah dikeluarkan oleh musuh-musuh umat Islam dalam upaya mereka menebar perselisihan di tengah umat, seraya mengatakan, “Sejak lama kami sudah memperoleh informasi akurat bahwa buku-buku yang penuh dengan tuduhan dan cacian terhadap Syiah dan Ahlussunnah diterbitkan dengan dana yang dikeluarkan oleh lembaga di bawah naungan arogansi dunia. Apakah fakta yang berbahaya ini tidak cukup untuk menjadi peringatan?”

Penerbitan buku-buku yang berisi tuduhan dan cacian terhadap Syiah dan Ahlussunnah, menurut beliau, adalah langkah yang membantu kepentingan AS dan zionisme internasional. “Semua pihak harus menyadari bahwa buku-buku semacam itu tidak akan pernah bisa men-Sunni-kan orang Syiah dan tidak akan men-Syi’ah-kan orang Sunni,” tegas Rahbar.

Ayatullah Al-Udzma Khamenei menekankan soal kepemimpinan Imam Ali bin Abi Thalib as, dan mengatakan, “Tak ada larangan untuk menerbitkan dan menyebarkan buku-buku yang memuat argumentasi kuat dan logis, seperti yang dilakukan para ulama Syiah sepanjang sejarah dan terus berlanjut sampai saat ini. Namun jangan sampai ada yang beranggapan bahwa dengan mencaci dan melontarkan tuduhan kepada kalangan Ahlussunnah berarti telah membela kebenaran Syiah. Sebab cara-cara seperti itu selain hanya menyulut api fitnah permusuhan juga tidak akan membuahkan hasil apapun. Tindakan seperti itu bukan cara yang benar untuk membela wilayah (prinsip kepemimpinan Imam Ali as), tetapi malah membela kepentingan Amerika dan kaum zionis.”

Menyinggung langkah terbaru musuh untuk menekan Iran terkait program nuklir damai Tehran dengan menggelar pertemuan yang dihadiri oleh para pemimpin sejumlah negara Arab, beliau menegaskan, “Langkah ini adalah langkah maksimal yang bisa dilakukan oleh musuh. Negara-negara Arab itu tentu mempunyai perhitungan dan menyangkut hubungan yang frontal dengan Iran, tentunya mereka tidak akan bersedia tunduk sepenuhnya kepada AS dan Zionis.”

Di akhir pidatonya, Rahbar menekankan, “Alhasil, tipu daya apapun yang dilakukan oleh kaum arogan tidak akan pernah bisa melemahkan umat Islam, jika bangsa Iran dan bangsa-bangsa Muslim waspada dan sadar.”


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: