Alif News


Berita Maha Duka Di Hari Asyura
7 Januari 2009, 5:00 am
Filed under: Al Muhibbin, PHBI Ahlul Bayt | Tag:
Sepanjang Zaman Pembantaian atas Kebenaran Takkan Pernah Usai

Pembantaian atas Kebenaran Takkan Pernah Usai Sepanjang Zaman

Inilah kisah tragedi Thuff yang dikisahkan oleh para perawi sejak cucunda Al-Musthafa tiba di Nainawa.

Al Husain menyeru sekelompok kaum yang mempertaruhkan kebinasaan, di saat mereka harus memilih antara keimanan dan kekufuran.

Al Husain berseru di hadapan musuh dengan suara yang menggema, sementara semua orang menyaksikan:

“Wahai sekalian manusia, dengarkanlah aku. Keturunan siapakah aku?. Kakekku Muhammad. Wahai kaum, bukankah kalian tahu, putra siapakah aku?. Pikirkan dan tanyakanlah kembali kepada diri kalian sendiri, atas dasar apakah kalian telah dan hendak menganiayaku?. Apakah karena dendam lama kalian kepada kami? Atau adakah hutang nyawa yang harus kami bayar kepada kalian?.” Seruan Al Husain, jelas terdengar, sementara semua orang hanya membisu menyaksikan.

“Wahai umat para pengikut kebiadaban, apakah kalian tidak mengenalku?, sedangkan aku adalah putra Al–Musthafa?. Paman ayahku adalah Hamzah, pelita kesetiaan, sebagaimana Ja’far Ath Thayyar, juga pamanku. Ayahku Haydar al Karrar, Singa pendobrak Khaibar. Ayahku adalah washi Rasul Muhammad. Maka tidakkah semua orang harusnya tahu, siapakah aku?.”

Anggota Ahlul Kisa’ kelima itu berkhutbah, dan dia pun telah menyempurnakan hujjah di depan mereka. Namun, tak ada seorangpun yang menyambut seruannya. Sungguh, memang tak ada yang menyambut seruan itu, selain debu yang beterbangan, dan panah-panah yang melesat ke kemah Al Husain laksana hujan. Dan pada saat putra Sa’ad meluncurkan anak panah kedengkian, anak panah itu tepat mengenai sasarannya. Sementara semua orang, hanya terdiam menyaksikan.

Begitulah kebiadaban jiwa-jiwa durjana. Mereka mengobarkan api perang yang membinasakan. Namun para pembela, dari barisan Al Husain tampil dengan gagah berani. Wajah-wajah mereka tersenyum lebar, menyambut kematian. Sungguh, mereka telah merintis jalan kepahlawanan, dengan darah. Yang tak lain adalah sebuah jalan yang terbentang luas, dimana siapapun yang berkehendak dan mau, pasti akan dapat menempuhnya.

Pedang-pedang para pembantai telah dihunuskan. Saat para pembela Al Husain maju melawan, dalam sekejap leher mereka bersimbah darah. Dan setelah angin peperangan bertiup kian kencang, mereka maju satu-persatu dengan membawa jiwa-jiwa yang suci. Demikianlah sekelompok pengikut kebenaran, bergelut melawan musuh. Semangat mereka sungguh membara, sementara semua orang, hanya mematung menyaksikan.

Suwaid putra Mutahawi’ tampil seraya berseru dengan suara menggelegar dihadapan musuh:

“Wahai Suwaid, majulah membela Al Husain, hari ini engkau pasti akan menjumpai Ahmad dan gurumu, Ali..”

Tak lama, Suwaid runtuh di atas pasir. Sungguh, dia adalah singa pemberani, sementara semua orang hanya terpana menyaksikan.

Selanjutnya Zuhair tampil seraya berseru:

“Aku adalah putra Al-Qain, wahai keluarga Shakhr. Aku berperang membela manusia-manusia dari keluarga suci terbaik, dialah Al Husain. Yang karenanya kebenaran menjadi tampak. Saksikanlah, hari ini aku telah membela dan mempertahankan pemimpinku.” Saat Zuhair mencabut pedang, semua orang hanya acuh menyaksikan.

Kemudian tiba giliran ‘Abis, seorang pemberani yang pantang mundur, dia maju ke medan perang seraya berkata:

“Akulah singa pemberani. Aku adalah pencinta, yang tergila-gila oleh pesona Al Husain. Begitulah pada hari ini, cinta telah mendorongku untuk melebur bersamanya, bersama Al Husain sang idolaku.”

Serta-merta ‘Abis pun menghambur maju, sementara semua orang hanya terpaku menyaksikan.

Lalu Habib tampil seraya berteriak:

“Akulah Habib, ayahku adalah Muzhahir. Aku adalah pahlawan, di medan perang yang berkecamuk. Sedangkan kalian, adalah para pengkhianat. Kami adalah para pembela yang selalu setia dan menepati janji.”

Setelah Habib siap berperang, semua orang tak juga peduli dan hanya mampu menyaksikan.

Kini tibalah giliran Aslam, dia maju seraya berkata:

“Lautan menjerit kesakitan oleh pukulan dan tikamanku. Angkasa menjadi sesak oleh panah-panah yang terpatahkan. Jika pedang ada di tanganku, pedang itu akan mengakhiri segala bencana. Karena itu, dengan membela Al Husain, aku bahagia.”

Demikianlah Aslam meraih kebahagiaan abadinya, sementara semua orang, hanya tertunduk lesu menyaksikan.

Tak berapa lama, terdengarlah suara seorang wanita suci nan merdeka, walau dia hanya seorang nenek tua bertubuh lemah, wanita tak berdaya itu berkata:

“Rasakanlah oleh kalian, pukulanku yang keras ini..!”

Demikianlah, nenek tua itu memukul wajah musuh dengan tongkat di tangannya. Sungguh, ini adalah keberanian yang tiada tara, sementara semua orang, dengan sikap pengecut menyaksikan.

Detik berikutnya Nafi’ berseru sambil melemparkan tombaknya dengan lemparan yang mematikan:

“Jiwaku tiada sedikitpun berguna. Dan sungguh ia hanya akan lebih tercela, bila hanya berdiam diri.”

Saat Nafi’ terjun ke medan laga, untuk membela manusia terbaik, semua orang hanya tertunduk malu menyaksikan.

Kini giliran Jon sang budak, berteriak sambil memegang pedang:

“Orang kafir ‘kan merasakan pukulan maut si budak hitam. Saksikanlah, ayunan pedangku demi membela keturunan Muhammad. Pada hari ini, aku membela mereka dengan lisan dan tanganku. Dan aku berharap syafaat mereka dengan ketaatanku ini.”

Saat budak berkulit hitam itu terjun ke area perang, semua orang, tanpa belas kasih hanya menyaksikan.

Dengan cepat maut menjemput. Barisan pembela Al Husain, dari pengikut dan sahabat setia itupun, berguguran satu demi satu. Darah syahadah mereka tertumpah, membanjiri tanah Karbala.

Berikutnya, tampillah singa-singa Bani Hasyim. Mereka adalah para pemilik kemuliaan. Barisan musuh mereka terjang seraya menghunuskan pedang, menuju kemenangan yang mereka nantikan.

Teganya Mereka Berlaku Keji pada Pemuda Berparas Mirip Nabi

Teganya Mereka Berlaku Keji pada Pemuda Berparas Mirip Nabi

Diantara mereka, tampil Al Akbar yang maju dengan berani. Sungguh, rona wajahnya bagaikan singa. Seraya maju, Al Akbar berseru dengan suara lantang:

“Aku adalah Ali putra Al Husain, putra Ali. Demi bayt Allah, kamilah yang paling dekat pertaliannya dengan Sang Nabi. Demi Allah, kami tak rela anak seorang yang tak jelas asal-usulnya berkuasa atas kami.”

“Telah kuraih keimanan, kemenanganyang membanggakan. Dan pada hari ini, saat akan kugapai kebajikan, biarlah semua orang menyaksikan.”

Setelah Ali Al Akbar, Said putra Aqil Ath Thalibi maju sambil berseru:

“Aku adalah keturunan Hasyim dan Ghalib. Kamilah para penghulu terdepan. Dan itulah Al Husain, manusia suci terbaik. Aku rela mengorbankan kepalaku karenanya. Dan kelak, aku akan dipuji.”

Saat tiba giliran ‘Aun, ia menerjang musuh sambil berteriak:

“Jika kalian tidak mengenalku, akulah putra Ja’far. Sang Syahid yang kelak menjadi penghuni surga. Cukuplah itu sebagai kehormatan bagiku di akhirat. Aku akan senantiasa mengikuti jejak kakekku. Pada hari ini, kusampaikan ikrar yang kuperbarui kembali.”

Selanjutnya terdengar putra Sang Penerap Sunnah:

“Jika kalian tak mengenalku, akulah putra Al Hasan. Cucunda Al-Musthafa yang terpercaya. Sedang dia, dialah Al Husain yang bagaikan tawanan yang tertahan. ‘Kan kukorbankan leher dan urat-urat tubuhku untuknya. Karena dialah Sang imam yang dimuliakan.”

Setelah itu, tampillah Utsman pemilik kemuliaan, memperlihatkan kesucian hatinya yang penuh taqwa:

“Aku bersaksi, inilah Al Husain manusia terbaik. Setelah Rasul dan Al Washi Sang Pembela.”

Berikutnya seorang pemuda pemberani maju. Sambil menyeru musuh yang lari darinya:

“Aku adalah putra Ali yang dikenal dengan Haydar.”

Dia menuju sungai Eufrat dengan penuh ketegaran. Sungguh, dia adalah layaknya sebuah benteng yang berdiri kokoh. Sesampainya di tepi Eufrat, dia berseru:

“Inilah saat perjumpaan!. Aku tak takut mati jika itu adalah ketenteraman. Akulah Al Abbas. Aku pergi membawakan air minum. Aku adalah pelindung cucu Al Musthafa. Bulan Bani Hasyim yang bercahaya di medan perang.”

Tak berapa lama, saat tubuhnya terpotong-potong, semua orang yang mati hatinya, hanya menyaksikan.

Dan kini, tidak ada seorangpun tersisa dari keluarga Ali Al Murtadha, selain Al Husain yang menolak kezaliman. Seluruh pasukannya telah gugur berjatuhan.

Inilah Al Husain, yang angkasa menjadi sempit karenanya. Api kedukaan membara di kedalaman hatinya.

Di Al Thuff, Al Husain kini seorang diri. Pada saat seluruh sahabatnya telah gugur menjemput syahadah, semua orang, tak berbuat apapun, hanya mampu menyaksikan.

Al Husain menghampiri kaum durjana dengan hati membara, seraya berseru:

“Aku adalah Al Husain putra Ali. Wahai kaum, aku bersumpah takkan pernah sedikitpun gentar. Aku tampil melindungi dan membela agama Sang Nabi.”

Saat itulah secara serentak, panah-panah menghujani tubuhnya, sedang kuda-kuda pun mengelilinginya. Demikianlah pasukan biadab itu berkerumun di sekitarnya.

Al Husain tak lagi memiliki teman atau kerabat. Di Al Thuff ia dikepung oleh pasukan yang siap-siaga. Mereka menghujani Al Husain dengan senjata dari segala arah. Dengan panah, tombak, dan pedang. Sementara para sahabat dan keluarganya telah gugur terkapar, Al Husain pun meratapi mereka.

Betapapun kesedihannya begitu mendalam, semua orang hanya bisa menyaksikan.

Begitulah Al Husain gugur kehausan. Mautlah yang telah mengakhiri rasa hausnya.

Syimir pun kini mulai beraksi. Si Terkutuk itu, tanpa tahu malu menaiki dada Al Husain. Sambil mengayunkan pedangnya, lalu memotong lehernya…

Langit pun menangis, meratapi Al Husain. Angkasa pun menjadi gelap gulita. Sedang tanah gersang Karbala, disepuh warna merah, berlumur darah syahadah.

Kuda Al Husain berjalan gontai, meringkik tertahan oleh derita kesedihan. Berharap menjumpai seorang penolong, yang tak jua kunjung datang.

Kuda itu menangisi manusia suci kelima dalam Ashabul Kisa’. Berjalan perlahan menghampiri sekelompok anak yang kini telah yatim dan para wanita yang kini tanpa pembela. Merekapun menangis dan meratapi Al Husain, meratapi nestapa dan nasib mereka yang tak lagi jelas akan terbawa kemana.

Saat mereka menangisi Sang Imam, yang isi perutnya dicabik-cabik, anggota tubuhnya dipotong-potong, dan dibiarkan tanpa busana di atas pasir tandus Karbala, tiba-tiba kemah mereka pun dibakar musuh.

Dan tak puas hingga disitu, jiwa-jiwa kejam durjana itu pun membakar kain penutup aurat para wanita dari keluarga paling mulia…!

Begitulah sekelompok manusia yang mengaku sebagai umat Muhammad  telah berlaku keji terhadap putra-putri Muhammad!

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un……………………..

Iklan

1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

-A’dhamallah ujuruna wa ujurakum bi mushabi aba abdillah al husein as…asslamu alal husein wa ahlul baytih….allahumma ar zukna syafaatal husein as…..btw. terimakasih atas posting nya…
kebetulan saya sedang mecari narasi maqtal yang ringkas tapi tangkas seperti di atas…naskah ini kami perlukan guna persiapan mementaskan tragedi tsb, lewat penuturan musikal dan teatrikal, ..insyaallah akan dipentaskan oleh slamet gundono, dalang/wayang suket dan seniman lainnya asal cirebon..temanya “Kidung Bubur sura, ratapan panjang di padang gersang”…mohon doanya dari keluarga besar al muhibbin ..rencana digelar tgl 2 januari/16 muharam 1431 H…LAbbaika Ya Husein !!!

Komentar oleh salehbagir




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: