Alif News


KOMENTAR RAKYAT CILIK TERHADAP PENEGAK HUKUM
26 Mei 2009, 7:33 am
Filed under: Advokasi dan Perlindungan Hukum | Tag:

Logo BBH

Apa yang menjadi biang keladi begitu suburnya praktik korupsi di negeri ini? Jawabannya, karena kalangan birokrat masih belum serius membasmi praktik korupsi tersebut. Bahkan peran oknom aparat penegak hukum juga pengacara yang seharusnya menjadi tumpuhan harapan publik dalam memberantas praktik korupsi justru tidak dilakukan secara optimal. Apa yang mereka lakukan tidak lebih sebagai adegan dalam sinetron semata.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa kalangan birokrat, dari pusat hingga daerah, berlomba-lomba merampok uang rakyat tanpa rasa malu dan bersalah.

Menurut Mohammad Hadun pengacara yang aktif dipergerakan ini mengatakan. Media massa memang banyak memberitakan birokrat didakwa melakukan tindak pidana korupsi. Namun sayangnya, belum terdengar berapa jumlah koruptor yang ditangkap dan dikerangkeng di bui. Kondisi ini membuat masyarakat perlu terus mengawal proses pemeriksaan terhadap oknum tersangka bersalah melakukan tindak pidana korupsi.

Seperti kasus dugaan korupsi perjalanan dinas DPRD Kota Probolinggo  tahun anggaran 2007 yang merugikan negara sekitar Rp 381 juta itu. Yang menyeret pengusaha biro perjalanan atau travel PT Gilang Wisata (Miendwiati), yang didakwa telah melakukan tindak pidana korupsi bersama sama oknum beberapa anggota Dewan. Jika itu benar sangat ironis sekali lanjut Hadun, anggota dewan yang dipilih rakyat, justru memeras rakyat. Hanya karena saya orang yang berpikir positif, saya yakin jika semua elemen bangsa bersatu untuk mengawasi para pemberi putusan, kita pasti akan mampu mengubah wajah bangsa Indonesia lebih baik dan terhormat.

Lelaki keturunan Arab ini, mengajak kepada masyarakat untuk memantau proses kasus dugaan korupsi perdin itu. Dengan kelihaian para aparat hukum sudah bukan rahasia lagi adanya konspirasi antara birokrat dan aparat penegak hukum. Aparat penegak hukum begitu lihai dalam mempermainkan pasal-pasal hukum untuk meloloskan/meringankan para pelaku tindak pidana korupsi. Lebih celaka lagi, para penegak hukum bahkan lihai mengalihkan pelaku dari tindak pidana korupsi ke pelanggaran administrasi dan perdata biasa. Dengan kata lain, uang dan kekuasaan telah memutar balik dan memporak porandakan kebenaran dan keadilan. Akibatnya, hukum bukan lagi melindungi kaum yang lemah dan benar tetapi senjata bagi yang berkuasa.tegas Hadun kepada HK.

Hal senada diungkapkan Anam anggota LSM IBW mempertanyakan. Mengapa praktik korupsi tumbuh begitu subur? Apakah karena korupsi adalah kejahatan luar biasa, sehingga sulit membuktikannya, bahkan membutuhkan waktu yang lama untuk membuktikannya? Atau karena menggunakan alasan sulitnya pembuktian sebagai senjata untuk bernegosiasi dengan para koruptor agar sanksi hukum diperingan atau kasus tersebut dipetieskan? Konspirasi murahan ini sering dirasakan dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat begitu pesimistis terhadap penegakan hukum tindak pidana korupsi. Sebab ketika birokrat yang terindikasi korupsi, dia akan berkorban habis-habisan, berapapun besarnya biaya yang harus dikeluarkan, agar bisa lolos dari jeratan hukum.

Kata Anam di sisi lain, ketika mengetahui seorang birokrat melakukan tindak pidana korupsi, aparat penegak hukum menjadikannya sebagai ‘sumber rezeki’. Caranya, lewat media massa oknum tersebut dipanggil, ditakut-takuti, bahkan diancam harus segera ditangkap atau diproses hukum. Tetapi apakah oknum yang disangka melakukan tindak pidana korupsi itu benar-benar diproses sesuai prosedur hukum dan dijebloskan ke lembaga pemasyarakatan? ‘Santapan lezat’ Apalagi ada trend baru bahwa praktik korupsi adalah tindakan yang merugikan keuangan negara, maka pelakunya tidak perlu dihukum, bahkan diperingan hukumannya asalkan sanggup mengembalikan kerugian negara.

Coba tanyakan kepada hakim-hakim yang menghukum tanpa dibarengi perintah menahan, tentu akan dijawab, sikap atau tindakan yang dilakukan sesuai falsafah KUHAP. Bukankah konteks penahanan yang diatur dalam Pasal 193 Ayat (2) huruf a KUHAP jo Pasal 197 Ayat (1) huruf k KUHAP pada dasarnya paralel dengan perintah penahanan yang diatur dalam Pasal 21 KUHAP, yang menentukan alasan-alasan (subyektif) penahanan antara lain adanya kekhawatiran bahwa tersangka/ terdakwa akan melarikan diri. Namun, jika tak ada kekhawatiran bagi hakim bahwa terdakwa akan melarikan diri atau terdakwa akan menghindarkan diri dari pelaksanaan putusan sampai adanya putusan hukum yang berkekuatan hukum tetap, hakim tak harus melakukan perintah supaya terdakwa ditahan.

Begitu juga dalam ketentuan Pasal 193 Ayat (2) huruf a KUHAP, menggunakan kata “dapat” memerintahkan supaya terdakwa ditahan, berarti di sini ada pilihan, bukan menggunakan kata “mesti” atau “harus”, sehingga apakah hakim akan memerintahkan agar terdakwa ditahan atau perintah tetap ada di luar tahanan, tergantung kebijaksanaan hakim.

Selain argumen-argumen hukum tersebut biasanya, juga hakim-hakim ini mungkin akan menjawab, untuk apa buru-buru memerintahkan terdakwa ditahan kendati kepadanya telah dijatuhi putusan penghukuman. Bukankah masih besar kemungkinan putusan itu akan dibatalkan oleh pengadilan tingkat banding atau kasasi?

Sebaliknya, bagi mereka yang berpandangan yuridis sosiologis, jika diajukan pertanyaan kepadanya, tentu akan menjawab, bila terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan perbuatan korupsi, sewajarnya terdakwa diperintahkan supaya ditahan.

Model putusan seperti itu juga tidak mendidik masyarakat. Mengapa? Pencuri sekor ayam saja ditahan, dihukum, dan segera menjalani putusan, sementara pelaku korupsi yang tidak ditahan meski sudah dihukum masih diberi “peluang” berkeliaran di luar tahanan. Bisa saja seorang pencuri itu berdalih: daripada mencuri kecil-kecilan lebih baik korupsi saja sekalian, sebab meski sudah dihukum, tetapi masih bisa berkeliaran menghirup udara segar.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: