Alif News


Israel Buka Kantor Dagang di Jakarta. Kita WAJIB MALU kepada PALESTINA dan DUNIA…
16 Agustus 2009, 5:41 pm
Filed under: Ina Aktualita | Tag:
Bangsa Besar: Bangsa yg Tahu Malu

Bangsa Besar: Bangsa yg Tahu Malu

Hari ini saya menemukan beberapa berita yang dilansir media online, menyebut bahwa di Jakarta telah dibuka Kantor Dagang rezim zionis Israel. Konon, keberadaannya dilatarbelakangi oleh pertimbangan rezim penjajah tersebut akan potensi pasar yang besar di negeri berpenduduk muslim hampir 200 juta ini. Sebuah pasar potensial untuk meraup keuntungan besar perusahaan-perusahaan mereka, yang secara langsung juga diprediksi dapat meningkatkan kondisi ekonomi bangsa penjajah Palestina tersebut.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Bukankah Indonesia-Israel hingga kini sama sekali belum pernah menjalin hubungan diplomatik secara resmi? Ataukah hal ini memang sengaja ditempuh untuk melegalkan hubungan dagang keduanya, yang secara diam-diam telah berlangsung lama itu? (Diam-diam Indonesia dan Israel sudah membuka hubungan dagang sejak tahun 2001, ketika Gus Dur masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Hubungan dagang itu tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Tahun 2001 tentang hubungan dagang antara Indonesia dengan Israel).

Kita layak mengingatkan pemerintah agar mewaspadai hal ini. Sangat mungkin Israel hanya menjadikan Kamar Dagang itu sebuah kedok belaka untuk mengcover kegiatan intelektual, ekonomi dan politik pemerintah mereka di Indonesia.

Bukanlah suatu hal yang mengherankan, bila rezim bengis yang selama ini telah berulangkali melanggar dan tak menghormati tata aturan internasional tersebut, hendak mengeksploitasi negara kita habis-habisan pada awalnya, untuk kemudian menguasai secara penuh kendali di segala sektornya. Sebagaimana banyak terjadi di sebagian besar negara, baik negara maju maupun negara yang sedang berkembang selama ini.

Hal ini sangat logis berhubung selama ini Indonesia dikenal sebagai negeri dengan jumlah berpenduduk muslim terbesar di dunia, yang suara penentangannya akan penjajahan dan pendudukan Israel atas Palestina yang terus berlanjut, sangat diperhitungkan, meski pada kenyataannya tidak terlampau tegas & keras.

Opsi untuk menundukkan Indonesia secara frontal ala militer, tentu dipandang mustahil oleh Israel. Karena terbukti, pada awal wacana membuka hubungan diplomatik Indonesia-Israel saja, di era pemerintahan Gus Dur, mayoritas tokoh keagamaan, tokoh politik dan masyarakat luas menentangnya dengan keras. Maka dirancanglah berbagai jurus halus untuk dapat bercokol di negeri kita, guna mempermudah aksi intelijen mereka dari dalam, diantaranya dengan kedok hubungan dagang itu. Untuk jangka panjang, hubungan ‘haram’ ini nampaknya diharapkan dapat mengukuhkan eksistensi Israel di mata dunia Islam karena Indonesia dapat dianggap sebagai salah satu referensinya.

Pertanyaannya: dengan alasan apapun, bagaimana negara anti penjajahan seperti Indonesia, pada saat yang sama, juga dapat menerima eksistensi dari sebuah rezim penjajah dan bahkan menjalin hubungan mesra dengannya? Bagaimana Indonesia sebagai pendukung dimerdekakannya Palestina, pada waktu yang sama justeru bergandengan mesra dengan rezim yang hingga kini menindas dan mendudukinya? Dan bagaimana, tanpa curiga, rezim penjajah ini kita biarkan berada di rumah dan tanah kita, tanpa khawatir suatu saat kita pun akan dijajahnya? Jika selama 60 tahun mereka betah menindas Palestina, di tengah perlawanan sengit bangsa mulia tersebut, mustahilkah nasib yang sama menimpa kita?

Menjelang peringatan hari Kemerdekaan di negeri yang saya cintai ini, saya jadi gundah, kapan kiranya kita akan benar-benar merdeka dalam arti yang sebenar-benarnya?

Sekali lagi, sungguh sulit saya pahami, bagaimana sebuah negara merdeka yang anti penjajahan seperti Indonresia, dapat menjalin hubungan erat dengan sebuah rezim penjajah semacam Israel. Lalu apa maksud dan dampaknya, kecaman demi kecaman yang selama ini kita lontarkan di forum-forum internasional? Sekedar basa-basi dan pemanis mulut belaka?

Bila keputusan ‘aneh bin ajaib’ pemerintah ini benar-benar terjadi, tanpa dapat dicegah oleh rakyat.
Bila Kantor Dagang Israel itu benar-benar telah dibuka di Jakarta, tanpa ada satu pihakpun yang peduli untuk membatalkannya.
Bila hubungan gelap ini terus berlanjut dalam keheningan dan diam.
Bila rezim haus darah ini dengan mudah dapat bercokol di negeri kita tanpa protes dari pihak-pihak yang mestinya bersuara.
Maka, pada peringatan Hari Kemerdekaan ke 64 ini, KITA SEMUA LAYAK MALU untuk BERTERIAK MERDEKA!
Ya, selain malu kepada diri sendiri, tentu saja sudah sepantasnya kita WAJIB MALU kepada PALESTINA dan DUNIA…


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: