Alif News


Ulurkan Tangan Ringankan Derita Bocah Malang
5 November 2009, 11:05 pm
Filed under: sosial
Arif bersama ibu asuhnya

Adakah Dermawan yg Peduli Nasib Kami?

Ketidak mampuan ekonomi yang menghimpit selama ini membuat kondisi Muhammad Zaenal Arifin (Arif), bocah 5 tahun yang tinggal di lingkungan RT 08, RW 02, Triwung Lor, Kademangan, belum tertangani. Padahal, benjolan daging yang tumbuh di hidungnya kian mengkhawatirkan. Kulit wajahnya tertarik hingga matanya nyaris tertutup.

Menurut Hawati, orang tua asuhnya, penyakit yang diderita Arif itu sudah terlihat sejak dia baru lahir. Dari waktu ke waktu, benjolan daging di hidungnya terus membesar. Namun sampai sejauh ini, Hawati mengaku tidak bisa berbuat banyak. Janda dua anak ini sebenarnya sangat kasihan melihat kondisi anak asuhnya itu. Hawati begitu ingin melihat wajah Arif normal seperti anak-anak lainnya.

Sayangnya, ketidakmampuan ekonomi membuatnya hanya bisa pasrah. Benjolan di hidung Arif kian hari terus membesar. Hawati tidak tahu apa sebenarnya penyakit yang diderita Arif itu. Selama ini, Arif tak pernah tersentuh penanganan medis secara serius. “Biaya darimana, Pak. Saya nggak punya penghasilan tetap,” ujar Hawati tampak sendu.

Arif sendiri dalam kesehariannya termasuk anak periang dan cerdas. Meski ada benjolan daging yang menutup wajahnya, Arif berusaha melupakan kondisi tersebut. Dia tetap bermain layaknya bocah normal lainnya. Walau begitu, Arif kadang mengeluh ketika benjolan itu terasa sakit. “Dia bisa nangis kalau jatuh dan wajahnya terbentur. Katanya sakit, Pak,” timpal Hawati.

Selain fisik, Arif termasuk anak bermental baja. Meski banyak teman sebanyanya menyebutnya hidung besar, Arif tetap tegar. Mungkin Arif berkeyakinan suatu saat kondisi wajahnya akan normal. Walau itu belum jelas kapan datangnya.

Kenyataan itulah yang membuat Hawati mengelus dada. Dia tak ingin melihat masa depan Arif jadi suram. Meski Arif bukan anak kandungnya, Hawati tidak mau membedakannya dengan darah dagingnya sendiri.

Jeritan penderitaan dan kerasnya kehidupan yang dirasakan Hawati saat melihat kondisi Arif, rupanya belum ada yang mendengarnya. Termasuk pula tangan pemerintah yang belum sampai ke rumahnya. Saat hajat politik di kota seribu taman ini digelar, diakui pernah ada yang menawari bantuan. Termasuk ketika Pileg kemarin. “Sampai sekarang tidak ada,” ujar Hawati.

Perempuan yang usianya sudah tua ini, berharap ada bantuan dari para dermawan hususnya bapak Walikota agar Arif bisa segera tertolong. Baginya, penderitaan Arif adalah kepedihan hatinya. Hawati tidak mau batin Arif terluka untuk kedua kalinya. Diungkapkan, Arif tinggal bersamanya sejak usia 40 hari. Ia ditinggal orang tuanya yang pulang ke Madura. Sekitar 2 tahun kemudian, orang tuanya datang menjenguk, namun setelah itu pergi lagi. Dan sampai sekarang tidak pernah kembali lagi. “Katanya dia mau kerja ke luar negeri,” kata Hawati.

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: