Alif News


Setiap Diri Adalah Pemimpin
9 November 2009, 2:40 am
Filed under: Leadership | Tag: ,
leadership

Maju ke Depan - Naik ke Puncak

Pemimpin Sejati mengangkatmu naik ke puncak & membawamu maju ke depan. Bukan menginjakmu di bawah & meninggalkanmu di belakang. Ia menunjukkan jalan ketika semua hilang arah. Dan senantiasa mampu memberimu secercah asa tatkala semua telah kehilangan pengharapan. [Esha R Yudhi]

Manajemen, kata Lee Iaococca, tak lain adalah urusan memotivasi orang lain. Ini terdengar seperti omongan sembarangan yang menyederhanakan urusan. Tapi, yang bicara bukan orang sembarangan. Dia legenda industri otomotif dunia yang membesarkan Ford, lalu Chrysler.

Dia orang yang pernah membatalkan pencalonan dirinya sebagai presiden Amerika Serikat. Dia orang yang mendukung kemudian kecewa dan habis-habisan memaki George W. Bush. Dan dialah yang jauh-jauh hari sudah menyebutkan bahwa Barack Obama layak jadi Presiden Amerika. [Meski belakangan kita paham, ternyata ia tak layak jadi ‘pemimpin dunia’ !]

Jadi, Anda mau membantah atau setuju? Saya setuju saja, tanpa kondisi apa-apa.  Saya kira Iacocca memang benar. Semua bagian dan tahapan menajemen itu: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan, tak akan sampai membawa sebuah organisasi ke tujuan atau ke hasil yang diinginkan, tanpa ada orang-orang yang mengerjakan semua itu, dan tanpa pemimpin handal yang menjaga semangat orang-orang yang bekerja itu.

Saya kira, Iacocca tak lagi bicara soal manajemen di sini, tapi ia sudah menyentuh pada hal yang lebih penting: Kepemimpinan.  Ya, perihal kepemimpinan itu, memang menjadi kerisauan Iacocca, terutama saat ia mencemaskan George W. Bush, yang dia sebut sebagai kecelakaan paling tragis dalam sejarah kepemimpinan Amerika.

Bush, juga menjadi contoh dalam buku terbaru John C. Maxwell Leadership Gold (Immanuel Publishing House, Jakarta, Cet. 1, 2009) bagaimana pemimpin bisa mengembangkan kepemimpinan dengan benar di satu momentum, tapi di momentum lain bisa amat salah.

Di mata Maxwell, Bush benar ketika tampil sebagai pemimpin setelah peristiwa  11 September. Tetapi, nama yang sama memberikan tanggap yang buruk ketika badai besar Katrina menghantam negeri itu. Dan Maxwell menulis, ….Hanya perlu beberapa hari bagi orang di Amerika Serikat untuk merasakan kekosongan kepemimpinan — dan bahkan banyak pendukung presiden itu mencela kepemimpinannya!

Bush, atau siapapun presiden yang memimpin saat bencana itu datang, tentu tak harus berbasah-basah terjun menyelematkan rakyatnya yang rumahnya tenggelam. Ada tim yang cepat dan tanggap untuk itu. Yang diperlukan adalah tindakan besar, pernyataan resmi dan cepat yang mampu menyemangati mental orang umum yang jatuh, dan membesarkan hati, dengan kata lain ya memotivasi juga.

Jika harapan itu tak tercukupi? Jika rakyat tak tersemangati? Kejatuhan reputasi menunggu, kecelakaan kepemimpinan tinggal menunggu waktu. Mereka yang dipimpin itu, rakyat itu, mereka yang menyumbangkan suara untuk dia yang memimpin itu, mudah sekali kecewa, menjauh dan mencela. Dan di sinilah berakhirnya  kepemimpinan seseorang, jauh mendahului pemilihan umum yang resmi.

Kita sesegera mungkin seharusnya lebih banyak memberi perhatian pada hal kepemimpinan ini. Maxwell tidak percaya bahwa bakat kepemimpinan itu adalah bakat yang dibawa sejak lahir. Kepemimpinan bisa diajarkan. Dan saya kira memang harus diajarkan. Maxwell sendiri, sejak karirnya yang dini, telah menyadari bahwa segala sesuatu bisa jatuh dan bangun karena kepemimpinan.  Sejak itu, 40 tahun sebelum buku Leadership Gold itu dia tulis – melengkapi rangkaian buku-buku tentang kepemimpinan lain karyanya – Maxwell meyakini bahwa menyusun ajaran kepemimpinan yang sesuai dengan perubahan zaman adalah bidang yang ia dalami.

Maxwell adalah seorang pendeta yang memulai karirnya di sebuah gereja kecil.  Kebaktian pertama yang ia pimpin sukses? Tidak, karena gereja yang dia sebut beratap lengkung dan berdinding miring itu hanya berisi tiga jemaat. Dua adalah dia dan istrinya sendiri!

Ia tidak menyalahkan kemalasan warga kota di mana gereja itu berdiri. Dia membenahi bagaimana caranya memimpin. Dia memotivasi warga kota yang adalah jemaat gerejanya itu agar rajin beribadat. Dengan gereja yang sama, dengan warga yang sama, Maxwell bisa mengubah sepinya gereja menjadi peribadatan yang ramai. Jadi, masalahnya adalah siapa yang memimpin, dan bagaimana dia memimpin, bukan?

Maxwell adalah Guru kepemimpinan modern. Ajarannya mendunia dan universal. Melintasi sekat iman, etnis dan batas negara.  Ia menulis teori dengan amat praktikal. Ia selalu melengkapi bukunya dengan langkah-langkah praktis yang harus dilakukan jika pembaca ingin menguasai teori yang dia diajarkan.

Saya ingin mengutipkan satu hal penting tentang apa yang dia sebut sebagai pemimpin yang efektif. Yaitu pemimpin membawa orang-orang ke puncak. Pemimpin yang mengangkat orang-orang ke tingkat baru. “Inilah persyaratan bagi pemimpin yang efektif,” kata Maxwell.

Lawannya adalah apa yang ia sebut sebagai ‘pemimpin egois’. Yaitu pemimpin yang meninggalkan semua orang di belakang dan menempuh perjalanan sendirian. Oh, betapa banyak kita lihat mereka yang memimpin dengan cara ini.

Saya sangat menyarankan siapa saja membaca buku Leadership Gold ini, terutama para pemimpin. Tapi, bukankah kata Rasulullah setiap dari kita adalah pemimpin? Dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban?

Bukankah Rasulullah juga pernah bersabda bahwa apabila ada tiga orang yang berada dalam suatu perjalanan, maka hendaklah salah seorang di antaranya memimpin mereka.

Jadi, kepemimpinan itu bukan perkara yang ada di awang-awang. Ini bukan urusan orang-orang besar saja. Ini adalah urusan kita semua, di sini, dan saat ini. Kita sedang dalam perjalanan yang tak bisa dihentikan. Banyak saudara kita yang merasa kepemimpinan itu kosong, dan mereka mengangkat dan memuja serta patuh pada pemimpin yang mereka akui sendiri.

Kita harus menunjuk seseorang menjadi pemimpin di antara kita, resmi atau tak resmi. Dan  boleh jadi, mungkin kita sendirilah yang pada saatnya dipercaya orang lain untuk mengemban amanah itu. Siapa tahu?

Iklan

1 Komentar so far
Tinggalkan komentar

Benar sekali, setiap org butuh pemimpin, bisa jadi org lain butuh kita menjadi pemimpinnya walopun suatu saat pilihan mrk thd kita adalah salah.kita bkn malaikat (ech…malaikat gk bs ya jd pemimpin manusia….manusia lbh sempurna dari malaikta bok!!!) dan kita juga bkn nabi yg dijamin kemaksumannya. kita adalah manusia yg relatif yg kadang melakukan kebenaran, tp kdg juga melakukan kslhan. Semua tercermin dari kacamata kita. Bagi kita mungkin Obama adalah org terburuk setelah GW. Bush, tp bg org lain yg memujanya, dia adalah seorang pahlawan yg melintasi batas2 rasialis. Brbahagialah kita yg tdk mensyakralkan pemimpin karena dia seorang pemimpin.

Komentar oleh CAPRES 2014




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: