Alif News


Mengenang Imam Jawad as: Teladan Ilmu & Kedermawanan
18 November 2009, 5:22 pm
Filed under: Cermin, Hikmah, PHBI Ahlul Bayt | Tag: ,

Untuk mengenang pribadi suci yg pada bulan ini kita peringati hari syahadah beliau, Imam Muhammad Taqi Al Jawad as, berikut kami postingkan tulisan singkat mengenai Sang Teladan Sejati dalam hal Ilmu & Kedermawanan ini.
Mudah-mudahan kita semua mendapatkan hikmah darinya.

Salam atasmu Imam Jawad as

Setelah Imam Ridha as gugur syahid, tampuk keimamahan berada di pundak Imam Jawad as yang saat itu masih anak-anak. Peristiwa itu mengingatkan kita pada pengangkatan Isa as sebagai nabi saat usianya masih anak-anak atau pun nabi Yahya as yang diangkat sebagai nabi saat ia masih remaja.

Peristiwa itu merupakan juga bukti kebesaran Allah swt. Dengan izin-Nya, Allah swt bisa mengaruniakan kesempurnaan dan kematangan akal pada sebagian hamba-Nya meskipun dalam usia yang masih belia.

Ali bin Asbath menuturkan, “Suatu hari aku melihat Imam Jawad as.  Dengan cermat, aku menatap sekujur tubuhnya,  sehingga aku nanti bisa menceritakan sifat-sifat beliau kepada para pecintanya di Mesir.  Dalam hatiku aku berpikir,  bagaimana mungkin seorang yang masih berusia sangat muda,  mampu menjawab soalan ilmiah dan agama yang paling sulit dan pelik serta menjadi jalan keluar pemikiran?”

Pada saat semacam itulah,  Imam datang menghampiriku dan ia memahami apa yang terbersit di benakku saat itu.  Beliau berkata: Wahai Ali bin Asbath, Tuhan membawa bukti atas keimamahan para aimmah.  Sebagaimana ia membawa bukti atas kenabian para anbiya.  Kemudian beliau membacakan ayat 12 surat Maryam yang mengungkapkan keberadaan hikmat dan nubuwah Nabi Yahya di masa anak-anaknya. Ia pun berkata,  mungkin saja Tuhan memberikan hikmah kepada seoarang anak. Sebagaimana tidak mustahil juga Ia memberikannya pada seseorang yang berusia 40 tahun.

Keistimewaan ilmu yang dimiliki Imam Jawad as juga membuat takjub para tokoh agama non-muslim.  Ketika mereka menyaksikan secara langsung kehebatan ilmu dan hikmah Imam Jawad as,  mereka pun mengakui bahwa keistimewaan yang dimiliki Imam Jawad as itu merupakan anugerah ilahi.

Imam Jawad as hidup dalam suasana politik yang sangat sulit.  Ia hidup sejaman dengan dua khalifah Abbasiyah,  Ma’mun dan Mu’tasim.  Para pemimpin dinasti Abbasiyah begitu ketakutan dengan hubungan baik umat yang begitu dekat dengan Imam Jawad as. Sebagaimana para tokoh Ahlul Bait lainnya, Imam Jawad as juga senantiasa menentang kezaliman dan tipu daya khalifah Abbasiyah.  Ia bahkan berani mengungkapkan hakikat kebenaran dalam kondisi sesulit apapun.  Terkait masalah para pemimpin yang zalim, Imam Jawad as berkata, “Para penzalim, penolong orang yang zalim, dan mereka yang rela menerima kezaliman, mereka semua sama-sama bersekutu dalam dosa yang sama”.

Sambutan luas masyarakat terhadap Imam Jawad dan hubungan dekat beliau dengan para ilmuwan dan ulama di masa itu,  membuat Ma’mun menerapkan kebijakan politik yang sangat licik dan penuh tipu muslihat.  Karena itu, Imam Jawad as pun akhirnya diasingkan ke kota Baghdad,  pusat pemerintahan dinasti Abbasiyah di masa itu.  Namun hal itu tak juga membuat kecintaan umat pada beliau makin surut. Tapi sebaliknya, pengaruh spiritual Imam Jawad makin tersebar luas ke pelbagai penjuru negeri-negeri muslim.

Imam Jawad as dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan.  Bahkan sebelum seseorang mengungkapkan kesulitan yang dihadapinya, beliau telah terlebih dahulu mengabulkan permintaan orang tersebut.  Tak ada seorang pun yang merasa putus asa dan pulang dengan tangan kosong,  jika mereka mendatangi Imam Jawad as untuk meminta bantuan.  Sebegitu dekatnya hubungan Imam Jawad as dengan masyarakat, sampai-sampai siapapun yang memiliki persoalan pribadi ataupun keluarga, mereka pun datang langsung kepada beliau menyampaikan persoalannya dan meminta arahan.

Dalam kesaksiannya, Bakar bin Saleh menuturkan:

“Aku menulis sebuah surat kepada Imam Jawad as.  Aku menceritakan padanya bahwa ayahku bukanlah seorang muslim.  Ia juga seorang yang sangat keras dan otoriter. Sikapnya pada ku sebagai pengikut Ahlul Bait as juga sangat keras.  Berdoalah untukku Imam dan apa yang mesti aku lakukan? Apakah aku harus bersikap lunak dengan ayahku ataukah aku harus meninggalkannya?”

Dalam jawaban suratnya,  Imam menulis, “Aku mengerti maksud suratmu tentang ayahmu.  Aku juga selalu berdoa untukmu.  Ketahuilah bahwa bersikap lunak itu lebih baik.  Dalam kesulitan juga ada kemudahan.  Bersabarlah, karena akhir yang baik adalah milik orang-orang yang bertakwa.  Insyaallah, Tuhan akan selalu meneguhkan langkahmu”.  Bakar bin Saleh menambahkan, “Setelah itu, berkat doa Imam Jawad as, Allah swt mengubah hati ayahku menjadi sangat penyayang.  Sampai-sampai ia tak pernah menentang apa yang kulakukan”.

Menjauh dari orang-orang yang tidak beriman dan menghindari kawan yang tidak baik selalu ditekankan berulang-ulang oleh Imam Jawad as,  hingga beliau mengibaratkan hal itu seperti menghindar dari ketajaman pedang.  Beliau berkata, “Jauhilah berteman dengan orang-orang yang buruk.  Sungguh mereka itu laksana pedang yang tajam. Lahirnya tampak baik namun tindakannya bisa berakibat buruk”.

Dalam ucapannya yang lain,  Imam Jawad as melarang pengikutnya untuk duduk bersama dengan orang-orang yang jahat.  Sebab hal itu bisa memunculkan prasangka buruk terhadap orang-orang yang baik.  Beliau menuturkan, “Berkumpul bersama orang-orang yang jahat dan berprilaku buruk, bisa menimbulkan prasangka negatif terhadap orang-orang yang baik”.

Dalam masa hayatnya sepanjang 25 tahun,  Imam Jawad as selalu membaktikan umurnya untuk mengembangkan budaya dan pemikiran Islam sesuai dengan tuntutan zaman di masa itu.  Karena itu, hingga kini karya-karya beliau masih bertahan.  Sekitar 100 ilmuwan dan perawi besar telah menulis beragam buku dan risalah yang bersumber dari hadis-hadis dan ucapan yang mereka nukil dari Imam Jawad as.

Sebelum  akhir tulisan  ini, ada baiknya bila kita simak salah satu pesan Imam Jawad as. Beliau berkata, “Merencanakan dengan bijak dan berpikir sebelum bertindak akan membuat kalian terhindar dari penyesalan”.

Semoga kita semua,  sebagai pecinta Ahlul Bait,  dengan berkah kelahiran maupun syahadah Imam Jawad as, dikaruniai oleh Allah swt kemampuan meneladani perilaku mulia beliau dalam kehidupan kita di tengah masyarakat.  Ilahi amin…


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: