Filed under: Advokasi dan Perlindungan Hukum
Filed under: Taklif
Selasa 30 agustus 2011, sore itu tinggal team divisi rukyah Probolinggo dan lumajang yang melanjutkan aktivitas pantauan hilal Rukyah, kali ini team divisi Rukyah Misbah Al Huda untuk titik timur laut dari kota malang melakukan pengamatanya dengan tidak menyeberang lautan ke pulau Gili ketapang lagi (lagi…)
Filed under: Taklif
Senin 29 agustus 2011 sore hari devisi rukyah misbahul huda yang di tugaskan untuk memantau hilal di pulau gili berangkat menuju lokasi, mereka berasal dari empat daerah pandaan, bangil, lumajang, dan probolinggo, walaupun sudah mengetahui bakal tidak akan muncul hilal yang dilhat dengan mata telanjang dengan posisi altitude dua derajat akan tetapi demi terlaksananya sidang Itsbath devisi rukyah misbahul huda tetap melakukan pantauan demi memastikan realitas dalam hilal rukyah tersebut, mereka menggunakan perahu mesin selama 30 menit untuk sampai di lokasi. (lagi…)
By : Idhem
Di malam lalitul qadar setiap manusia menginginkankan agar hidayah dapat menghampirinya, tapi ibadah apa yang kita banggakan dari amalan per buatan kita sendiri..?, praktis tidak ada. Di saat kita dihadapkan dengan Allah SWt, terlalu berani jika seseorang mengandalkan ibadah shalatnya yang serba kurang, shalatnya yang dilakukan tidak dengan secara khusuk atau shalatnya yang sering dilakukan di akhir waktu. terlalu berani seseorang mengandalkan nasibnya hanya dengan gerak gerik yang kita lakukan terkadang jauh dari substansi dan hakikat sholat itu sendiri, sebagaimana kita tidak bisa menggantungkan dan mengandalkan amal perbuatan kita yang lain yang serba sedikit dan serba tidak berarti, yang seringkali kita lakukan tidak tulus untuk Allah SWT, oleh sebab itu para pecinta dan pengikut ahlulbait lebih mengandalkan cinta mereka kepada wujud suci Amirul Mu’mini Ali bin abu thalib, kecintaan yang tulus, rasa duka dan sedih pada saat mereka tertimpa musibah, bisa menjadi alasan Allah SWt untuk memandang kita semua di malam lallatul Qadar ini, kita panjatkan kehadiratnya ya Allah, sungguh hamba mu tidak bisa mengandalkan sesuatu dari amal perbuatanya, tapi kecintaanku kepada ahlul bait, cintaku kepada Ali bin abu thalib, rasa sedihku dan tangisanku di malam kesyahidan beliau adalah pertanda cinta yang tulus karena cinta itu adanya di dalam hati, mungkin orang lain tidak pernah atau bahwa kita sedih pada saat kesedihan ahlulbait dan juga tentu senang pada saat kesenangan mereka, perasaaan itu pasti perasaan yang tulus dan itulah yang bisa kami harapkan, bahwa di hari kiamat kelak ketika seseorang tidak bisa mengandalkan sesuatu apapun yang pernah ia lakukan di dunia Allah akan memberikan keselamatan pada kita karena kecintaan tersebut, oleh sebab itu kondisi seperti ini patut kita syukuri betapa banyak orang-orang yang sama sekali tidak memperhatikan bahwa di tanggal 19 ramadhan ada wujud suci pendamping rasulullah SAWW yang mengakhiri hayatnya dengan sangat menyedihkan di pukul kepalanya di saat beliau mendirikan shalat di mihrabnya dan harus mengakhiri hayatnya di saat umat membutuhkan beliau, banyak diantara kaum muslim yang tidak tau apalagi memberikan perhatian pada peristiwa tersebut, maka dari itu sangatlah pantas jika para pecinta ahlul bait memperingati acara syahadah beliau, kepada musibah yang menimpa Ali Bin Abu Thalib, sebagaimana pula kita patut mensyukuri bahwa Allah SWT masih memberikan taufik kepada kita untuk tetap hidup sampai bulan Ramadhan yang sekarang, ini merupakan kesempatan luar biasa yang layak bagi seseorang untuk bersyukur karenanya berapa banyak dari kawan kita yang pada tahun yang lalu ada bersama kita tahun ini tidak lagi bersama kita, semoga itu menjadi alasan bagi Allah SWT untuk menambah kenikmatanya kepada kita “apabila kalian bersyukur maka kami akan menambah kenikmatan pada kalian” maka dari itu jangan pernah mengabaikan kenikmatan Allah sekecil apapun. (lagi…)
(setelah pertempuran di front agung Karbala, Zainab binti ‘Ali bin Abu Thalib ra, satu dari beberapa tawanan yang selamat dari keturunan Rasulullah saw, menjawab olok-olok Yazid bin Muawiyah, Khalifah bani Umayyah waktu itu, yang sambil mengguris-guris gigi Husin dengan tongkatnya, ia berkata: “Kiranya nenek moyangku yang gugur di perang Badar dahulu, dapat menyaksikan…”.). “Maha Benar Allah, wahai Yazid ! “kemudian kesudahan orang orang yang jahat itu adalah buruk, bahwa mereka mendustakan ayat-ayat Allah, dan selalu memperolok-olokkan ayat-ayat itu”. (QS. Ar Rum: 10).
Apakah engkau mengira, wahai Yazid, bahwa pada waktu kami disiksa, di atas bumi dan di kolong langit ini, sehingga kami digiring seperti menggiring tawanan, apakah engkau mengira, bahwa Allah telah menghinakan kami dan memuliakan engkau? Engkau mengira bahwa itulah tanda kebesaran dan kewibawaanmu, lalu engkau mengangkat hidungmu tinggi-tinggi, merasa kagum melihat kebesaranmu, merasa riang gembira karena melihat dunia ini dijalin untukmu, dan segala urusan disusun dibawah telapak kakimu? Sungguh jika Allah membiarkan engkau, maka hal itu hanyalah sesuai dengan Firman-Nya, “janganlah orang-orang kafir itu mengira bahwa Kami memperlambat siksa mereka itu untuk kebaikan bagi diri mereka, sesungguhnya kami memperlambat siksa mereka itu supaya dosa mereka bertambah banyak, dan untuk mereka itulah siksa yang hina”. (QS. Ali Imran: 178). (lagi…)
Filed under: Sejarah
Sayyidah Fatimah Az Zahra, Penghulu Wanita Dunia. Alam semesta adalah manifestasi keberadaan Allah swt. Dengan kekuasaan-Nya, Allah menciptakan alam semesta ini. Imam Shadiq AS bersabda: “Beliau dinamakan Fathimah karena tidak ada keburukan dan kejahatan pada dirinya. apabila kita mengenal siapa putri tercinta Rasulullah saww yakni Fatimah Azzahra as, maka kita tidak akan bisa melukiskan sosok peribadi yang sempurna ini. Karena Sayyidah Fatimah Azzahra as adalah wanita teragung dan termulia yang tak Nama dan Julukan Sayyidah Fatimah Az-Zahra’ as. Imam Shadiq AS bersabda: “Beliau dinamakan Fathimah karena tidak ada keburukan dan kejahatan pada dirinya. Apabila tidak ada Ali AS, maka sampai hari Kiamat tidak akan ada seorangpun yang sesuai untuk mendampingi hidupnya. (lagi…)
Hari Lahir
Imam Hasan Al-‘Askari as adalah imam ke-11 dari 12 silsilah imam Ahlulbait. Beliau dilahirkan di Madinah Al-Munawwarah pada tahun 232 Hijriah dan meninggal syahid di Samara tahun 260 H.
Ayah beliau ialah Imam Ali Al-Hadi as, sedangkan ibu beliau bernama Susan.
Beliau as menjadi imam (pemimpin umat) pada usia 22 tahun dan hidup pada masa yang penuh dengan kesulitan dan berbagai macam tipu daya. Setelah sang ayah wafat, Imam as hidup selama 6 tahun, dan sepanjang itulah masa kepemimpinannya. (lagi…)
Ribuan Rakyat Yaman Tuntut Presiden Mundur
Rezim saat ini dianggap sudah tercemar korupsi dan tidak mampu lagi menjaga wibawa
Pergolakan di negara-negara Arab berlanjut. Setelah Tunisia, Aljazair, dan Mesir, kini rakyat di Yaman menuntut pemerintahan saat ini turun.
Kantor berita Associated Press mengungkapkan bahwa puluhan ribu warga Yaman melakukan aksi protes di berbagai kota. Mereka menuntut perbaikan kesejahteraan sekaligus mendesak Presiden Ali Abdullah Saleh agar segera turun.
Di riwayat disebutkan, empat puluh hari setelah peristiwa tragis di Padang Karbala (Asyura), rombongan keluarga dan sahabat Imam Husein yang masih tersisa dalam perjalanan ke Madinah dari Syam. Dalam perjalanan ini mereka singgah ke Karbala. Imam Ali Zainal Abidin as dan Sayidah Zainab, adik Imam Husein beserta rombongan menggelar acara azadari (peringatan duka) atas syahidnya penghulu pemuda surga.
Disebutkan pula, Jabir bin Abdillah Ansari, sahabat besar Rasulullah pada hari itu juga berziarah di pusara Imam Husein dan bergabung dengan keluarga Nabi dalam acara Arbain Huseini. Hari itu, kenangan akan perjuangan para kesatria Bani Hasyim dan sahabat setia Imam Husein dalam membela cucu Nabi dan misi kebangkitan Asyura kembali terkuak. Para peserta arbain Huseini di Padang Karbala benar-benar tenggelam dalam kesedihan dan seraya melantunkan bait-bait syair. (lagi…)
Filed under: Aktualita
Kaum arogan senantiasa menganggap dirinya sebagai pihak terbaik dan terkuat dari yang lain. Untuk itu, salah satu karakteristik utama yang melekat dalam diri mereka adalah sifat agresor, imperialis dan serakah. Sebaliknya, salah satu tujuan kolektif para nabi ilahi adalah melawan arogansi dan mewujudkan keadilan di muka bumi. Dengan demikian, kebangkitan mewujudkan keadilan di tengah masyarakat, aksi penyadaran dan mendorong kaum tertindas melawan kezaliman merupakan metode perjuangan para nabi ilahi. (lagi…)





















